Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PUISI | TANPA BATAS

Puisi menurut Aminuddin (2009:134) kata puisi berasal dari bahasa Yunani pocima “membuat” atau poeisis “pembuatan”. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.

Sedangkan menurut Semi (1988:84) Puisi dapat diumpamakan sebagai suatu pernyataan yang menyenangkan yang muncul dari suatu kemampuan, penyairnya melihat sesuatu secara antusias dengan jurus yang tepat. Penyair mempertimbangkan secara matang apa yang dilihatnya, kemudian mengungkapkan hasil penglihatannya tanpa terlalu berkecendrungan untuk mempermasalahkannya.

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): 

  1. Ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait;
  2. Gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus;  
  3. Sajak;

 berikut ada beberapa contoh puisi/sajak kami:

 




SYAHADAT AYAH



Ayah itu, sosok penggugah hati dikala muram durja
Menjadi partitia menuju setapak demi setapak tujuan yang kosong
Pelopor kemadirian jiwa dalam bebagai situasi
Hingga mampuh menjelma menjadi saintis rumusan qalbu

Ayah itu, ibtidah pengenalan rasa dalam segala momen
Selimut hati yang kala dingin membekukan rasa peka
Penetes embun dikala amarah membakar jiwa
Tempat pengaduan bimbang yang hakimah

Dekapannyan terasa berupa benteng tak beresiko
Dakwah sanubarinya mengalir tanpa hentinya dalam darah
Kemudi bahtera di samudera sejahtera rumah tangga
Perwira dan pemimpin yang objektif untuk dipanuti

Roman, sikap, sifat kasihnya hampir tak dapat ditebak
Sangar-sangarnya melebihi singa kelaparan di belantara gersang
Lembut-lembutnya mampu menertawakan sutera alami
Dingin-dinginnya taklukkan Kutub Utara Selatan
Panas-panasnya bandingkan sebongkah bara Api

Sampai kapan pun dengan lantang akan ku teriakan
Ayah ku kebanggaanku!
Sampai kapan pun kita akan tetap bersinergi hingga suatu ketika di baka nanti
dan  sampai kapan pun syahadat mu, adalah syahadat ku.



                            Kaki Gunung Gamalama
                            Selasa, 16 Mei 2012
                            
                                   (FD)
 
 --------------------------------------------------------------------
 
 

 NAFSU 

 

Kita menghiyanati sepi

dan dipaksa cemburu pada sunyi yang menenangkan.

 

Dahaga rindu menjadi ornamen indah dalam suatu ruang kisah

Sudahakah kita menyapa pada sabar?

 

Karena setidaknya iya menghibur hasrat yang menggebu-gebu.

 

                 (FD)

 

--------------------------------------------------------------

 

HARAPAN PADA KENYATAAN

 

Pada sesuatu yang mana aku harus membunuh harapan?

 

Sesuatu yang menjadiakn aku adalah cinta 

dan kamu adalah sayang?

 

Entahlah,

diam-diam aku rindu.

 

Birahi ataukah emosi semata

Tapi aku rindu.

 

Bak rindu harapan pada kenyataan.

 

                (FD) 

------------------------------------------------------------


*Kudapan Penguasa*


Acungkan tangan, busungkan dada, 

Teriak lantang kami memang hanya sekedar kudapan penguasa.

Sampah? Iya, 

Bau busuk pula. 

Bangsa Merdeka karena berjuang "Ferguson" bukan mejilat.

Lalu apa hebatnya bersyair soal kemiskinan sedangkan kau miskin?

Maka jadilah penjilat agar tak miskin. (pikirmu)

Alasan perut jadi senjata paling ampun untuk menyerang balik kritik. Padahal, nyata memprioritaskan isi perutmu dari pada hati dan akal sehat.

Bau busuk mulutmu tak bermakna apa-apa di dunia nyata. Lebih terkenal lah kamu di media sosial sebagai pejuang pembela hak kaum tertindas.

Apa?

Mau menyela kalau hanya menjadi kudapan penguasa?

Cemilan jika hanya mereka butuh? 

Butuh untuk mengeyangkan perut mereka? 

Taukan berapa harga kudapan itu?

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 KEPERGIAN

 

Kita sepakat menyimak setiap rintik hujan sebagai sebuah nada kenangan, 

lalu melangitkan khayalan tentang kerinduan pada masa-masa silam,

Di penghujung senja, angin pun menitipkan kenangan, 

lalu musim akan menjadikannya sebagai hujan pengobat luka-luka yang amat kelam, 

dan diantara sesap kopi hitam, terselip perasaan kasihan, 

perempuan itu tetap seorang diri bersama tumpukan kenangan, 

mungkinkah seseorang akan menangisi kepergiannya?

ah sudahlah

tak perlu risau dengan sebuah kepergian. 

bukankah pertemuan akan menjadi lebih indah, 

ketika kita bisa menikmati sebuah penantian?

-------------------------------------------------------------

= Tanpa Kekasih =


Saat senja perlahan menghilang, dan malam mulai menyapa semesta.

Jalan-jalan diterpa hening, angin pun seakan malas memberi kabar.

Kulihat perempuan berbalut kain berwarna jingga tengah berdiri di persimpangan jalan,  berdiri tegak seakan menetap tak mau pergi.

Entah siapa gerangan puan itu, mungkinkah ia menunggu seorang tuan ataukah ia memang tak bertuan? 

Sesekali matanya terpejam seolah menikmati gerimis yang datang bersama sepi,

lalu diam-diam ia terlelap dalam heningnya malam.

Ternyata puan itu tak sendiri selembar kertas 

menemani dirinya bersama puisi tentang sepi dari sang kekasih.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

 KEHIDUPAN


Disaat menjalani rangkaian cobaan kehidupan,

lalu sekilas pertemuan manis esok didunia makin sukar ku ramalkan ,

bahkan mungkin kemanisan itu akan terus hilang dan Jiwapun meratap pedih perasaan menagih kasih.

lantas Kemana hilangnya kemanisan di dunia? 

Kini uang menjadi segalanya, 

jabatan dijadikan pilihan utama. 

Perjuangan masih di persimpangan tapi musuh di sekeliling telah bersorak gembira, 

yang bersalah dilindungi bahkan bertindak tanpa logika. 

Hey kawan! 

Mulut bisa bungkam, mata bisa terpejam tapi tipu daya tak bisa selalu erat digenggam.

Sesuai pepatah bahwa tiada gading yang tak retak, 

atau tepatnya tidak ada yang sempurna di dunia ini, 

dunia ini sudah terlalu tua dan hampir kian berakhir, 

dunia ini hanya sisa menunggu masa untuk binasa. 

Maka hapuskanlah persengketaan koyakkan segala kekejaman, 

semoga segala persoalan dijawab dengan sebuah kemenangan.



  

Coretan Tanpa Batas
Coretan Tanpa Batas Kami tidak dapat menjelaskan deskripsi tentang diri kami sendiri. Jadi, biarlah isi blog ini yang mendeskripsikan semua hal tentang kami.

Posting Komentar untuk "PUISI | TANPA BATAS"